Harga Saham GoTo Anjlok, Simak Infonya Disini!

Harga Saham GoTo Anjlok – Telkom Grup memandang dinamika harga saham sebagai hal yang wajar terjadi memberi respon harga saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk yang terevisi cukup dalam akhir-akhir ini.

Senior Vice President, Corporate Communication dan Investor Relation Telkom Ahmad Reza menjelaskan, harga saham dapat turun dalam tetapi juga bisa naik lumayan tinggi, sesuai keadaan pasar baik itu global atau regional. Naiknya menurunnya harga saham dipercayai akan membuat kekuatan capital gain atau capital lost.

Harga Saham GoTo Anjlok

“Dinamika harga saham sebagai satu yang wajar terjadi. Misalnya tahun kemarin, kami mencatat unrealized gain atas investasi GoTo sejumlah Rp 2,5 triliun. Tetapi sekarang dapat terjadi unrealized loss,” tutur Reza melalui info di Jakarta, Senin (16/5/2022).

Reza memperjelas, saat Telkom Grup memutuskan untuk melakukan investasi pada sebuah perusahaan, tidak hanya cuma menimbang faktor untung rugi semata-mata, tapi juga menimbang faktor yang semakin besar luas kembali, seperti kolaborasi dalam usaha membuat ekosistem digital nasional yang semakin besar, satu diantaranya lewat investasi Telkom Grup di GoTo.

Dengan investasi Telkom Grup di GoTo, dipercaya akan membuat kerjasama dan kolaborasi yang sangatlah baik seperti mendatangkan program khusus untuk Partner Gojek dan easy onboarding merchant Partner Gojek jadi reseller Telkomsel, akses gampang untuk reseller lewat GoShop, dan feature keamaman seperti number masking.

Merger Gojek-Tokopedia diharap makin perkuat investasi Telkomsel di Gojek menjadi jalan keluar digital yang komplet dengan nilai kolaborasi nilai yang lumayan tinggi.

“Telkomsel memberi jalan keluar ke sopir dan merchant Gojek untuk tingkatkan engagement lewat pemakaian service digital connectivity dan basis advertensi Telkomsel. Hingga karena ada program kolaborasi ini, kami mengharap akan terbentuk nilai lebih (nilai creation) yang terus-menerus baik untuk Telkom, GoTo dan Indonesia di masa datang,” kata Reza.

Peraturan Bank Sentra Amerika Serikat (AS) The Federasi Reserve (The Fed) meningkatkan suku bunga referensi sejumlah 50 pangkalan point atau 0,50 % membuat index semua saham global alami penekanan jual.

Investor baik itu di Indonesia atau global bersama-sama melepas sahamnya dan berpindah mengkonversi uangnya ke dolar Amerika. Saham yang banyak dilepaskan oleh investor sekarang ini ialah emiten di perusahaan tehnologi.

Bahkan juga Softbank lewat investasinya Vision Fund mencatat rugi rekor rugi 27 miliar dolar AS atau Rp 395 triliun karena pengurangan harga saham dampak dari peraturan The Fed yang meningkatkan suku bunga referensinya minggu kemarin. Sahamnya juga ditutup jeblok 11 % bila dibanding harga saham bulan kemarin.

Saham perusahaan tehnologi di Indonesia alami nasib yang serupa dengan investasi yang sudah dilakukan oleh Softbank. Emiten bank digital seperti Bank Jago (ARTO) dan pasar place seperti BukaLapak dan Gojek Tokopedia (GOTO) alami revisi yang cukup dalam.

Walau alami revisi, Reza yakini prospect industri digital di Indonesia masih lumayan janjikan. Dengan penetratif warga akan service digital yang rendah, membuat kekuatan industri digital di Indonesia mempunyai potensi untuk semakin meningkat. [Antara]

Sumber :